Untuk adalah kata depan yang menandai tujuan, maksud, atau pihak yang menerima manfaat: “hadiah untuk ibu”, “belajar untuk ujian”. Fungsi itulah yang dibahas lebih dulu di halaman ini. Sebagai kata tugas, untuk memang hanya punya sedikit padanan yang benar-benar bisa saling menggantikan.
Sinonim Kata Untuk
- bagi
- guna (lazim di ragam tulis resmi)
- demi (menekankan pengorbanan)
- buat (ragam percakapan)
- akan (arkais, seperti pada “rindu akan”)
Perbedaan Nuansa
Bagi lebih pas menandai pihak yang terkena atau sudut pandang seseorang: “bagi saya, harganya masih wajar”. Sementara untuk netral dan bisa menandai tujuan sekaligus penerima, sehingga hampir selalu aman dipakai.
Guna terasa resmi dan hampir selalu diikuti kata kerja dalam laporan, proposal, atau surat dinas: “guna meningkatkan mutu layanan”. Di percakapan, kata ini terdengar kaku.
Demi membawa nada pengorbanan atau kesungguhan (“demi anak-anaknya”), jadi janggal untuk keperluan teknis biasa. Tidak lazim menulis “demi mencetak dokumen”. Buat sepadan dengan untuk dalam obrolan sehari-hari, tetapi sebaiknya diganti untuk di tulisan formal.
Agar dan supaya sering dianggap sinonim untuk, padahal keduanya kata penghubung yang menuntut klausa berpredikat lengkap. “Uang untuk biaya sekolah” tidak bisa diubah menjadi “uang agar biaya sekolah”. Satu lagi kekeliruan yang sering muncul di surat resmi: memakai untuk di tempat kepada pada bagian alamat tujuan.
Contoh Kalimat
- Kampus memberikan keringanan biaya bagi mahasiswa yang orang tuanya terkena PHK.
- Rapat divisi digelar Kamis siang guna menyusun anggaran tahun depan.
- Bu Sri rela berjualan gorengan sejak subuh demi menyekolahkan ketiga anaknya.
- Lewat pesan WhatsApp, Dian menulis, “Kue ini buat kamu, jangan dihabisin sendiri ya.”
- Setelah lima tahun di Jakarta, ia mulai rindu akan kampung halamannya (pemakaian akan seperti ini terbatas pada verba tertentu).
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah “teruntuk” baku?
Bentuk itu terdaftar dan lazim pada persembahan atau dedikasi buku, misalnya “Teruntuk ibuku”. Namun berlebihan bila dipakai menggantikan untuk biasa dalam kalimat sehari-hari.
Kapan memakai “untuk” dan kapan “kepada” dalam surat?
Kepada menandai penerima langsung, misalnya pada alamat surat dan setelah kata seperti “menyampaikan”. Untuk menandai tujuan atau kepentingan sesuatu.